BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keterampilan berbahasa merupakan keterampilan yang memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan terampil berbahasa seseorang dapat mengungkapkan ide, pikiran, gagasan dan perasaannya kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tulisan.

Keterampilan dan kemampuan berbahasa sangat berhubungan erat dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Jadi jelaslah bahwa bahasa seseorang mencerminkan jalan pikirannya (Tarigan dkk. 1990:14). Dengan demikian dapat dikatakan pembinaan dan pengembangan dari kemampuan dan keterampilan berbahasa sangat diperlukan dalam proses pendidikan.

Keraf (1994:3) menyatakan bahwa keterampilan berbahasa harus tetap dibina dan dikembangkan. Karena keterampilan berbahasa dalam kehidupan manusia  mempunyai peran penting sebagai  alat untuk menyatakan ekspresi diri, sebagai alat komunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial serta sebagai alat kontrol sosial.

Untuk dapat menciptakan efek berkomunikasi yang baik tersebut, diperlukan empat keterampilan berbahasa pokok yang harus tetap dibina dan dikembangkan. Keterampilan berbahasa itu yaitu: keterampilan menyimak (mendengarkan), keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Keterampilan membaca diperlukan dalam membuka cakrawala wawasan dan menambah ilmu pengetahuan. Sedangkan keterampilan menulis diperlukan dalam mengungkapkan dan mempublikasikan gagasan-gagasan serta ide pikiran dalam bentuk tulisan. Begitu juga halnya dengan keterampilan menyimak dan keterampilan berbicara sangat diperlukan dalam membina komunikasi lisan dengan orang lain.

Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut mempunyai hubungan yang erat antara aspek keterampilan yang satu dengan aspek keterampilan yang lainnya. Namun dalam penelitian ini penulis hanya membahas hubungan antara keterampilan membaca dengan keterampilan menulis. Khususnya keterampilan membaca pemahaman dengan keterampilan menulis ringkasan.

Tarigan (1986:4) menyatakan bahwa antara menulis dan membaca mempunyai hubungan yang erat. Bila kita menuliskan sesuatu, maka pada prinsipnya seseorang menginginkan agar tulisannya itu dibaca oleh orang lain. Dengan demikian pada dasarnya hubungan antara menulis dan membaca merupakan hubungan antara penulis dengan pembaca.

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang besar pengaruhnya dalam meningkatkan kemampuan intelektual peserta didik. Karena dengan menulis peserta didik akan mampu mengungkapkan gagasan dan pemikirannya dalam suatu kerangka berpikir yang logis dan sistematis serta membantu peserta didik untuk berpikir secara kritis.

Salah satu bentuk keterampilan menulis yang penting dimiliki oleh peserta didik adalah keterampilan menulis ringkasan. Ringkasan merupakan suatu bentuk penyajian tulisan secara singkat terhadap suatu tulisan. Achmadi (1988:81) menyatakan bahwa ringkasan merupakan suatu bentuk ekspresi yang ketat dari isi utama suatu karangan. Karena tujuan utama dari suatu ringkasan adalah untuk memberi tahu pembaca isi orisinal yang diringkaskan, terutama mengenai suatu pikiran utama (Central idea) dalam karangan aslinya.

Untuk bisa membuat suatu ringkasan yang baik, seseorang dituntut untuk memahami tulisan yang akan diringkas. Dalam arti kata menulis sebuah ringkasan menuntut keterampilan membaca pemahaman yang tinggi dari peserta didik agar dapat memahami, dan mencerna makna dari tulisan itu dan kemudian meringkaskannya dengan baik. Menurut Bond dkk. (dalam Tarigan dkk. 1990:42) membaca pemahaman merupakan kegiatan membaca yang bertujuan memperoleh pemahaman dan penafsiran yang memadai terhadap makna-makna yang terkandung di dalam bahasa tulis.

Membaca intensif (membaca pemahaman) merupakan materi pokok yang wajib dipelajari dan dikuasai peserta didik dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Kurikulum 2006) pada kelas VIII semester II. Namun dalam pelaksanaannya, pengajaran keterampilan membaca kurang berjalan dengan efektif. Di lapangan ditemukan sejumlah permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran membaca. Hal ini tentu saja akan membawa pengaruh terhadap pembelajaran keterampilan menulis terutama pengajaran keterampilan menulis ringkasan. Permasalahan itu antara lain dikemukakan oleh Nurhadi (1987:17) sebagai berikut. (1) rendahnya tingkat kecepatan membaca, (2) minimnya pemahaman yang diperoleh, (3) kurangnya minat baca, (4) minimnya pengetahuan tentang cara membaca yang efektif, dan (5) adanya gangguan-ganguan fisik dari pembaca.

Dari permasahan di atas, guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk Menyikapi permasalan dan mencarikan solusi pemecahan masalah agar kendala-kendala tersebut dapat teratasi. Sehingga pembelajaran membaca pemahaman dapat berjalan efektif. Yang pada akhirnya dapat meningkatkan keterampilan menulis ringkasan.

Berdasarkan wawancara informal penulis dengan guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VIII di SMP Negeri 3 Payakumbuh diperoleh keterangan bahwa dalam  pengajaran keterampilan menulis ringkasan pada kelas VIII tidak berlangsung dengan efektif. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kemampuan menulis ringkasan siswa. Rendahnya kemampuan menulis ringkasan ini dipengaruhi oleh kurangnya kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VIII tersebut. Kurangnya kemampuan membaca pemahaman ini disebabkan oleh faktor kekurangkonsentrasian siswa dalam pembelajran membaca pemahaman. Hal ini diperburuk oleh keadaan kurangnya minat baca siswa. Banyak siswa yang beranggapan bahwa membaca adalah suatu hal yang membosankan. Permasalahan di atas membawa implikasi terhadap rendahnya kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh.

Berdasarkan permasalahan diatas peneliti tertarik untuk meneliti sejauh mana kemampuan membaca pemahaman dan kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh dan bagaimana hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis ringkasan di SMP Negeri 3 Payakumbuh pada siswa kelas VIII.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dan berdasarkan wawancara penulis dengan guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri 3 Payakumbuh, diidentifikasikan sejumlah permasalahan mengenai kurangnya kemampuan membaca pemahaman dan kurangnya kemampuan menulis ringkasan siswa. Identifikaasi masalah tersebut yaitu: 1. kurangnya kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Payakumbuh. Hal ini terlihat dalam hal kemampuan siswa dalam menentukan ide pokok paragraf, menentukan informasi fokus dan informasi tambahan, serta menyimpulkan isi bacaan dari tulisan yang dibacanya. 2. kurangnya kemampuan menulis ringkasan siswa. Hal ini terlihat dalam hal ketepatan menentukan kalimat topik, ketepatan penggunaan kata hubung antar kalimat dan antar paragraf, ketepatan bahasa yang digunakan dan panjang ringkasan.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, dan luasnya cakupan masalah yang dapat diteliti, maka penelitian ini dibatasi pada: 1. kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh, 2. kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh, 3. hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini dalam bentuk pertanyan penelitian. Rumusan masalah tersebut yaitu: 1. Bagaimana kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh? 2. Bagaimana kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh? 3. Bagaimanakah hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh.

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan:

  1. Kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh, dilihat dari aspek: (a) ketepatan dalam menentukan ide pokok paragraf, (b) ketepatan dalam menentukan informasi fokus dan informasi tambahan, serta (c) kemampuan menyimpulkan isi bacaan.
  2. Kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh, dilihat dari aspek: (a) ketepatan dalam menentukan kalimat topik, (b) ketepatan penggunaan kata hubung, (c) ketepatan bahasa yang digunakan, dan (d)  kesesuaian panjang ringkasan.
  3. Menganalisis keterkaitan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Pihak-pihak tresebut antara lain adalah: (1) peneliti sendiri, sebagai bahan kajian akademik dan pengetahuan lapangan. (2) guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya di SMPN 3 Payakumbuh, sebagai bahan masukan dalam mengajarkan keterampilan membaca pemahaman dan keterampilan menulis ringkasan kepada siswa. (3) peneliti lain, sebagai informasi dan perbandingan dalam melakukan penelitian yang lebih mendalam.

BAB II

KERANGKA TEORITIS

A. Kajian Teori

Berkaitan dengan permasalahan penelitian, maka akan digunakan teori-teori berikut ini. (1) hakikat membaca, (2) membaca pemahaman, (3) hakikat menulis, (4) menulis ringkasan, dan (5) pembelajaran membaca pemahaman dan menulis ringkasan dalam kurikulum KTSP.

1. Hakikat Membaca

a. Pengertian Membaca

Membaca merupakan suatu proses berpikir yang kompleks dan memerlukan multi keterampilan. Keterampilan tersebut meliputi: keterampilan memahami lambang-lambang bahasa, keterampilan memahami serta menginterpretasikan pesan yang disampaikan penulis melalui tulisannya.

Pateda (1989:93) mengemukakan bahwa membaca adalah pekerjaan mengidentifikasi simbol-simbol dan mangasosiasikannya dengan makna, atau dengan kata lain membaca adalah proses mengidentifikasi dan komprehensi. Di lain pihak, Tarigan (1985:7)  mengemukakan bahwa membaca adalah proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui kata-kata dan bahasa tulis.

Dari pendapat yang diuraikan oleh Pateda dan Tarigan di atas dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan usaha untuk mengidentifikasi simbol-simbol dan mengasosiasikan serta menginterpretasikannya dengan tujuan untuk mendapatkan pesan yang disampaikan penulis melalui kata-kata dan bahasa tulis.

Gani dan Semi ( 1976:1) juga mengemukakan batasan membaca, yaitu sebagai berikut.

“Membaca adalah suatu usaha untuk mendapatkan sesuatu yang ingin dilakukan atau mendapatkan kesenangan atau pengalaman. Membaca bukan sekedar kemampuan  mengenal huruf-huruf yang membangun kata-kata, atau sederetan kata-kata yang membangun  kalimat, atau sekedar melafalkannya dengan baik, tetapi jauh lebih luas dari pada itu, ia menuntut aktifitas mental yang terarah, yang sanggup menangkap dan memahami gagasan yang terselubung di balik lambang tertulis.”

Dari kutipan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa membaca merupakan suatu usaha yang tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan pesan atau informasi dengan mengenal atau melafalkan rangkaian kata yang membangun kalimat dengan baik, tetapi lebih jauh dari pada itu membaca merupakan kegiatan yang menuntut pemahaman yang tinggi dan kesanggupan untuk mengintepretasi makna yang terkandung dalam bacaan itu.

Sejalan dengan pendapat Gani dan Semi di atas, Nurhadi (1987:  ) merumuskan batasan membaca sebagai berikut. “Membaca merupakan kegiatan yang komplek dan rumit yang melibatkan pikiran untuk mengingat, memahami, membedakan dan menerapkan apapun yang terkandung dalam bacaan itu”.

Dari batasan yang dikemukakan oleh para ahli di atas mengenai definisi membaca, dapat diambil kesimpulan bahwa membaca adalah suatu kegiatan kompleks yang melibatkan pikiran untuk memahami dan mengintepretasikan lambang bahasa guna memperoleh pesan atau informasi yang disampaikan penulis melalui tulisannya.

b. Tujuan Membaca

Tujuan utama membaca adalah untuk mencari dan memperoleh informasi mengenai isi bacaan serta memahami makna yang terkandung dalan bacaan.

Adler dan Doren (dalam Agustina, 200:7-8) menyatakan bahwa tujuan membaca terbagi atas dua yaitu untuk mendapatkan informasi dan untuk pemahaman. Membaca untuk mendapatkan informasi hanya bersifat menambah perbendaharaan saja, namun kurang dapat meningkatkan pemahaman pembaca. Seperti membaca surat kabar, majalah atau apa saja yang dapat dipahami dengan cepat. Namun lain halnya dengan membaca untuk pemahaman. Membaca untuk pemahaman merupakan kegiatan membaca yang pada awalnya tidak dipahami, namun setelah membacanya pembaca memahami pesan yang terdapat dalam bacaan.

Tarigan (1985:9) mengemukakan tujuh tujuan membaca yaitu: (1) memperoleh perincian-perincian dan fakta-fakta, (2) memperoleh ide-ide utama, (3) mengetahui urutan dan susunan bacaan, (4) untuk menyimpulkan, (5) untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan, (6) untuk menilai dan mengevaluasi, (7) untuk membandingkan atau mempertahankan.

Di lain pihak, Tarigan (1994:3) berpendapat bahwa kegiatan membaca mempunyai dua tujuan utama yaitu: (1) tujuan behavioral, yang disebut juga tujuan tertutup, ataupun tujuan instruksional. Tujuan ini biasanya diarahkan pada kegiatan membaca untuk memahami makna kata, keterampilan studi dan pemahaman. (2) tujuan ekspresif atau tujuan terbuka. Tujuan ini diarahkan pada kegiatan membaca pengarahan diri sendiri, membaca interpretatif, dan membaca kreatif.

c. Jenis-Jenis Membaca

Adler dan Doren (dalam Agustina, 2000: 23) membagi membaca atas dua jenis yaitu: membaca berdasarkan tingkatan dan membaca menurut kecepatan dan tujuan. Membaca menurut tingkatan terdiri atas: (1) membaca permulaan, yaitu membaca berupa pembinaan kesanggupan menyusun lambang tulisan serta penangkapan makna. (2) membaca inspeksional, yaitu membaca yang memerlukan sejumlah waktu tertentu untuk menyelesaikan bacaannya. (3) membaca analitik, yaitu membaca yang menuntut pemahaman yang tinggi terhadap bahan bacaan. (4) membaca sintopikal (membaca perbandingan). Dalam membaca jenis sintopikal ini pembaca dituntut unutk membaca lebih dari satu buku kemudian mengembangkan dan membandingkan antara buku-buku tersebut.

Sedangkan membaca menurut kecepatan dan tujuan terdiri atas: (1) membaca memindai, yaitu membaca yang mengutamakan pengungkapan materi bacaan tanpa membaca keseluruhan. (2) membaca kilat, yaitu membaca dengan kecepatan yang tinggi. (3) membaca studi, yaitu membaca untuk mempelajari dan meneliti suatu persoalan. (4) membaca reflektif, yaitu membaca untuk menangkap informasi secara terperinci dan kemudian melaksanakan informasi tersebut.

Selain itu Tarigan (1985:22) secara umum membagi membaca atas dua bagian yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati. Membaca dalam hati terbagi atas dua bagian yaitu membaca ekstensif dan membaca intensif. Membaca ekstensif terdiri atas: (1) membaca survei (2) membaca sekilas (3) membaca dangkal. Sedangkan membaca intensif terbagi atas empat bagian yaitu: (1) membaca telaah isi (2) membaca pemahaman (3) membaca ide-ide (4) membaca telaah bahasa. Membaca telaah isi terbagi lagi atas dua bagian yaitu: membaca bahasa dan membaca sastra.

Menurut Tarigan (1985:31) membaca ekstensif adalah kegiatan membaca pemahaman yang digunakan untuk memahami isi bacaan yang penting dengan cepat. Sedangkan membaca intensif adalah membaca yang menuntut pemahaman yang lebih tinggi dan terperinci terhadap bahan bacaan. Dari pendapat Tarigan dapat disimpulkan bahwa membaca ekstensif merupakan membaca yang bertujuan untuk mencari dan mengetahui informasi penting tanpa memahami bacaan tersebut secara lebih memdalam. Sedangkan membaca intensif adalah membaca yang menuntut pemahaman yang lebih tinggi dan lebih mendalam terhadap bahan bacaan.

Untuk lebih jelasnya mengenai jenis-jenis membaca, akan digambarkan melalui bagan berikut.

Bagan 1. Jenis-jenis Nembaca

Dari uraian mengenai pembagian jenis-jenis membaca di atas, membaca telaah isi yang pertama adalah membaca teliti, yaitu membaca secara cermat dan teliti sehingga ditemukan ide-ide pokok dan perincian-perincian penting mengenai isi bacaan. Kedua, membaca pemahaman, yaitu membaca untuk mendapatkan dan memahami bacaan agar dapat menguraikan dan menceritakan kembali.

Jenis membaca pemahaman merupakan kegiatan membaca yang banyak diterapkan pada jenjang-jenjang pendidikan. Seperti  sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas maupun perguruan tinggi. Dengan membaca pemahaman ini siswa ataupun mahasiswa dituntut untuk memahami dan menganalisis bahan bacaan secara lebih teliti dan mendalam. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap pemahaman siswa dan mahasiswa terhadap materi pelajaran.

Kemampuan  membaca pemahaman merupakan dasar bagi membaca kritis. Setelah siswa mampu menangkap dan memahami informasi-informasi dalam bacaan, maka dalam membaca kritis dilakukan penilaian secara kritis. Jadi melalui membaca kritis siswa dapat membedakan mana informasi yang penting atau tidak. Kemudian tingkatan membaca selanjutnya adalah membaca ide-ide. Di sini siswa mencari, memperoleh dan memanfaatkan ide-ide yang terdapat dalam bacaan. Setiap bacaan tertentu mengandung ide-ide yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca. Ide-ide inilah yang dicari oleh siswa, dan setelah diperolehnya maka siswa dapat memanfaatkn ide tesebut dalam proses komunikasi. Kemudian dilanjutkan dengan membaca tingkat terakhir yaitu membaca telaah bahasa.

2. Membaca Pemahaman

a. Definisi Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman merupakan kegiatan membaca yang bertujuan agar pembaca dapat mengetahui dan memahami isi bacaan secara keseluruhan.

Membaca pemahaman berkaitan erat dengan usaha memahami hal-hal penting dari apa yang dibacanya. Yang dimaksud membaca pemahaman atau komprehensi adalah kemampuan membaca untuk mengerti ide pokok, detail penting, dan seluruh pengertian. Pemahaman ini berkaitan erat dengan kemampuan mengingat bahan yang dibacanya (Suyoto: 2008).

Agustina (2000:18) mengemukakan bahwa membaca pemahaman adalah membaca yang dilakukan tanpa mengeluarkan bunyi atau suara. Membaca ini tidak menuntut pembacanya membunyikan atau mengoralkan bacaan, tetapi hanya menggunakan mata untuk melihat dan hati serta pikiran untuk memahaminya.

Tarigan (dalam Tarigan dkk. 1990:43) mengatakan pada hakikatnya membaca pemahaman adalah kegiatan membaca untuk memahami isi bacaan, baik yang tersirat maupun yang tersurat. Oleh karena itu dalam membaca pemahaman si pembaca tidak hanya dituntut sekedar mengerti dan memahami isi bacaan, tetapi juga harus mampu menganalisis, mengevaluasi dan mengaitkannya dengan pengalaman-pengalaman yang telah dialaminya.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman merupakan membaca yang lebih mengutamakan pemahaman terhadap isi bacaan dari pada mengoralkan atau menyaringkan bacaan sehingga mampu memahami maksud dalam bacaan tersebut baik yang tersirat maupun yang tersirat.

b. Tujuan Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman bertujuan untuk menangkap makna dari dari gagasan-gagasan yang terdapat dalam bacaan, yang berbentuk pengertian-pengertian dan penafsiran yang tidak menyimpang dari ide-ide yang disampaikan dalam bacaan.

Sementara itu Tarigan (dalam Tarigan dkk. 1999:42) mengemukakan bahwa membaca pemahaman bertujuan untuk: standar dan norma kesusastraan, resensi kritis, drama tulis, pola-pola fiksi.

Adapun aspek-aspek dalam mambaca pemahaman meliputi: (1) memahami pengertian-pengertian sederhana, yang mencakup kemampuan memahami kata, dan pola kalimat serta kemampuan menafsirkan tanda-tanda tulisan. (2) memahami signifikasi makna, yang mencakup kemampuan memahami ide-ide pokok, kamampuan mengaplikasikannya dan meramalkan reaksi yang kemungkinan timbul dari pembaca. (3) dapat mengevaluasi isi dan bentuk-bentuk karangan. (4) dapat mennyesuaikan kecepatan membaca dengan tujuan yang ingin dicapai.

c. Teknik Pengajaran Membaca Pemahaman

Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman. Agustina (2000:19) mengemukakan lima teknik membaca pemahaman yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan pembelajaran membaca, yaitu (1) menjawab pertanyaan, (2) meringkaskan bacaan, (3) mencari ide pokok, (4) melengkapi paragraf, (5) goup klose, (6) group sequencing. menjawab pertanyaan adalah memberikan bahan bacaan kepada siswa, kemudian siswa ditugaskan untuk menjawab sejumlah pertanyan berdasarkan bacaan yang telah dibacanya. Meringkas bacaan yaitu menyajikan karangan dalam bentuk yang lebih singkat dari bacaan aslinya. Menentukan ide pokok adalah menentukan ide-ide dan pikiran-pikiran utama yang terdapat dalam setiap paragraf dalam bacaan. Melengkapi paragraf adalah memberikan beberapa paragraf yang belum sempurna untuk disempurnakan oleh siswa dengan pilihan yang sudah disediakan.Teknik group klose adalah menyempurnakan pola yang belum lengkap menjadi satu kesatuan yang utuh. Group sequencing adalah menyusun kembali pola kalimat yang sudah dikacaukan susunannya menjadi paragraf yang logis dan sistematis.

4. Hakikat menulis

a. Definisi Menulis

Pada dasarnya menulis merupakan kegiatan pengalihan bahasa lisan ke dalam bentuk bahasa tulisan. Semi (2003:21) mendefinisikan menulis sebagai suatu upaya memindahkan bahasa lisan ke dalam wujud bahasa tulisan dengan menggunakan lambang-lambang grafen.

Sedangkan Tarigan (1986:21) mendefinisikan menulis sebagai suatu upaya menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut jika mereka memahami bahasa dan gambaran grafik tresebut.

Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa menulis adalah pemindahan bentuk bahasa lisan ke dalam bentuk bahasa tulisan dengan menggunakan lambang grafik atau grafen yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh oramng lain.

Diantara keempat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan menulis merupakan kegiatan berbahasa yang paling kompleks. Dikatakan kompleks karena menulis melibatkan keterampilan lain yang harus dimiliki.

Semi (2003:4) menyatakan ada tiga keterampilan dasar yang harus dimiliki dalam keterampilan menulis yaitu: (1) keterampilan berbahasa, keterampilan ini mmencakup keterampilan penggunaan ejaan, tanda baca, pemilihan kata, penggunaan kalimat efektif. (2) keterampilan penyajian, mencakup  keterampilan pembentukan dan pengembangan paragraf dan menyusunnya ke dalam susunan yang sistemati. (3) keterampilan perwajahan, yaitu keterampilan pengaturan tipografi dan pemanfaatan sarana tulis secara efektif dan efisien.

b. Manfaat Menulis

Pada dasarnya fungsi dari tulisan adalah sebagai bentuk alat komunikasi tidak langsung. Pengajaran keterampilan menulis mempunyai banyak manfaat bagi peserta didik yaitu membantu peserta didik untuk berpikir secara logis, sistematis dan kritis, memperdalam daya tangkap atau persepsi serta membantu menjelaskan pemikiran-pemikiran peserta didik.

c. Tujuan Menulis

Tujuan penulisan sebuah tulisan menurut Tarigan (1986:24) adalah: (1) tujuan penugasan. (2) tujuan altruistik, yaitu tujuan untuk menyenangkan pembaca. (3) tujuan persuasif, yaitu tujuan untuk meyakinkan pembaca akan kebenaran yang disampaikan. (4) bertujuan untuk menginformasikan. (5) bertujuan untuk menyatakan diri. (6) tujuan kreatif. (7) bertujuan untuk pemecahan masalah.

4. Meringkas

a. Definisi Ringkasan

Ringkasan berasal dari kata precis yang berarti memotong atau memangkas. Dari definisi tersebut meringkas sebuah karangan dapat diumpamakan sebagai memangkas sebatang pohon sehingga hanya tinggal batang, cabang, dan ranting terpenting beserta daun-daun yang diperlukan sehingga tampak bahwa esensi pohon masih dipertahankan. Dengan demikian dapat diartikan bahwa ringkasan adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat (Keraf, 1975:261).

Achmadi (1988: 81) menyatakan bahwa ringkasan merupakan ekspresi yang ketat dari isi utama suatu karangan atau teks yang bertujuan untuk memberitahu pembaca isi orisinal yang diringkaskan terutama mengenai pikiran utama (central idea) dalam karangan asli. Senada dengan itu Gani (1999:179) memberikan defenisi ringkasan sebagai berikut. “Menyajikan kembali suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang lebih pendek atau ketat dengan tetap mempertahankan struktur karangan  yang sebenarnya. Isi karangan dan pandangan penulis tetap dipertahankan”.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ringkasan adalah suatu bentuk penyajian karangan yang panjang dalam bentuk lebih ringkas atau ketat dan tetap mempertahankan keaslian isi karangan dan pandangan penulis.

Senada dengan pendapat di atas, Agustina (2000:26) menjelaskan bahwa meringkas adalah memotong bagian-bagian bacaan yang tidak merupakan ide-ide pokok yang penting. Dengan kata lain dalam sebuah ringkasan, keindahan gaya bahasa, ilustrasi serta penjelasan yang terperinci dihilangkan sedangkan sari karangan dibiarkan tanpa hiasan. Namun tetap mempertahankan pikiran pengarang dan pendekatan yang asli.

Tujuan utama yang diperoleh dari sebuah ringkasan adalah untuk mengetahui dan memahami isi dari sebuah buku atau dari suatu karangan.

Ada beberapa sinonim atau kata lain yang dekat maknanya dengan ringkasan. Tetapi mempunyai konteks pemakaian yang khusus. Widyamartaya (1992:92) menjelaskan tentang sinonim ringkasan tersebut sebagai berikut. (a) abstrak atau sari karangan yaitu ringkasan dari suatu karangan ilmiah yang ditulis dalam bahasa yang sama dan dari sudut pandang yang sama dengan karangan aslinya. Mengikuti tatanan serta perimbangan asli tanpa penilaian pribadi. (b) précis atau ringkasan stricto sesnsu adalah hasil penyaringan isi suatu tulisan dengan kata-kata sendiri sejauh mungkin. (c) ikhtisar yaitu bentuk penyajian ringkasan yang lebih leluasa, dimana penulis dapat meringkas dengan mengikuti karangan aslinya dalam hal tatanan ataupun meringkas dengan tatanan yang dikehendahi oleh penulis ikhtisar sendiri demi tujuan yang ingin ditetapkan.

Selain itu Achmadi (1988:81) mengemukakan empat istilah yang dekat maknanya dengan ringkasan. Yaitu: (a) ikhtisar adalah pemadatan suatu karangan sehingga hanya memaparkan langsung pikiran utama dan nada asli pengarang. (b) sinopsis adalah ringkasan yang biasa digunakan untuk meringkas cerita dalam karya sastra. (c) abstrak adalah ringkasan padat mengenai segi-segi penting atau utama terhadap suatu eksposisi formal atau argumentasi. (d) parafrase adalah pengungkapan kembali dalam bahasa yang lebih bersahaja dan lebih harfiah untuk menyatakan kembali makna asli puisi.

Senada dengan pendapat Achmadi, Agustina (2000:27) juga mengemukakan beberapa istilah yang berkaitan dengan ringkasan yaitu: sinopsis, ringkasan yang dipakai untuk karangan fiksi atau karya sastra. Abstrak, ringkasan yang dipakai untuk skripsi, tesis, dan disertasi. Sumari, ringkasan yang dipakai untuk artikel-artikel ilmiah. Resume, ringkasan yang dipakai untuk berita-berita populer.

Jadi dari pendapat ahli di atas perbedaan definisi dari istilah ringkasan terletak pada jenis karangan yang diringkaskan dan tujuan yang ingin diharapkan. Jika sinopsis dilakukan pada karya sastra Abstrak dilakukan pada karya tulis ilmiah. Resume pada artikel-artikel populer sedangkan sumari dilakukan pada artikel-artikel ilmiah.

b. Manfaat ringkasan

Terdapat beberapa manfaat yang diperoleh dari kegiatan meringkas. Gani (1999: 179) menyatakan bahwa manfaat meringkas adalah; 1. Dapat dijadikan sebagai sarana latihan berpikir secara terstruktur dan sistematis. 2. Dapat dijadikan sebagai sarana untk melatih kepekaan terhadap cara berpikir orang lain. 3. Dapat mempermudah seseorang memahami suatu bacaan. 4. Ringkasan dapat menghemat berbagai aspek (Waktu, pikiran dan lain-lain). 5. Ringkasan dapat membangkitkan minat baca dan latihan untuk terampil membaca.

c. Prosedur Membuat ringkasan

Beberapa prosedur yang dipergunakan unruk membuat ringkasan yang baik dan teratur menurut keraf (1994: 263) adalah: 1. Membaca karangan asli: penulis harus membaca naskah asli secara keseluruhan beberapa kali untuk mengetahui kesan umum dan maksud pengarang. 2. Mencatat gagasan utama: semua gagasan yang penting dalam karangan dicatat. 3. Membuat reproduksi: yaitu menyusun kembali suatu karangan singkat berdasarkan gagasan utama yang telah dicatat. 4. Ketentuan tambahan yang terdiri dari: a. Menyusun ringkasan dalam bentuk kalimat tunggal bukan dalam bentuk kalimat majemuk. b. Meringkaskan kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. c. Memperhitungkan jumlah alinea dan topik utama yang akan dimasukkan dalam ringkasan. d. Bila mungkin menghilangkan semua keterangan atau kata sifat. e. Mempertahankan susunan gagasan asli. f. Ringkasan pidato diringkas dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. g. Biasanya dalam ringkasan ditentukan panjang hasil ringkasan.

Selain itu Liang Gie (dalam Agustina, 2000: 27-28) juga mengemukakan beberapa tahapan menulis ringkasan yang baik, yaitu: 1. Membaca secara keseluruhan karangan untuk mendapatkan gambaran umum mengenai isi karangan. 2. Menggarisbawahi bagian-bagian yang penting yang terdapat dalam buku atau karangan. 3. Mencatat bagain-bagian penting tersebut. 4. Membaca sekali lagi cacatan tersebut sambil menyisipkan kata-kata penhubung, sehingga adanya pertalian yang lancar antar kalimat. 5. Membaca sekali lagi ringkasan tersebut sambil perevisian terhadap tulisan tersebut.

Dari kedua prosedur menulis ringkasan yang telah diuraikan di atas, maka dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan teori yang dikemukan oleh Keraf sebagai landasan teori. Hal ini disebabkan karena teori yang dikemukan oleh Keraf lebih lengkap dan lebih terperinci sehingga memudahkan peneliti untuk melaksanakan  penelitian tersebut.

5. Pembelajaran Membaca Pemahaman dan Menulis Ringkasan dalam Kurikulum

Pembelajaran keterampilan berbahasa pada jenjang pendidikan sekolah menengah pertama diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik  untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun secara tulisan. Serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan manusia Indonesia (Depdiknas, 2006:52).

Di dalam Kurikukulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia dibagi dalam empat kelompok, yaitu: menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Kemampuan membaca pemahaman dalam kurikulum KTSP untuk sekolah menengah pertama terdalam pada kelas VIII semester II. Dengan standar kompetensi ke-11 yang berbunyi “ memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif dan membaca nyaring”. Dan dijabarkan dalam kompetensi dasar ke-11.2 yang berbunyi “menemukan informasi untuk bahan diskusi melalui mambaca intensif”. Sedangkan kemampuan menulis ringkasan terdapat dalam standar kompetensi ke-12 yang berbunyi “mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman, teks berita, slogan/poster. Dijabarkan dalam kompetensi dasar ke-12.1 yang berbunyi “menulis isi buku rangkuman ilmu pengetahuan popular.

B. Penelitian Relevan

Penelitian terdahulu yang relevan degnan judul penelitian ini adalah sebagai berikut.

Dewi Kumala. 2000. “Hubungan minat baca dengan kemampuan membaca pemahaman siswa SLTP 18 Padang”. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah secara umum minat baca siswa berada pada taraf sedang. Kemampuan membaca pemahaman siswa SLTPN 18 Padang juga berada pada taraf sedang. Dan dari hasil penelitian tersebut dapat dibuktikan adanya hubungan yang berarti antara minat baca dengan kemampuan membaca pemahaman siswa SLTP 18 Padang.

Hasnidarwis. 2008. “Kemampuan membaca pemahaman karangan narasi siswa kelas VIII SMPN 3 Pariangan Kab. Tanah Datar”. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah kemampuan membaca pemahaman karangan narasi siswa kelas VIII SMPN 3 Pariangan Kab. Tanah Datar secara keseluruhan berada pada kelompok sedang. Karena nilai rata-rata siswa adalah 78,40 dengan SKBM yang ditetapkan adalah 67.

Julmanizar. 2008. “Kemampuan meringkas karangan deskripsi siswa kelas VIII SMPN 18 Padang dengan teknik menentukan kalimat topik paragraf”. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah kemampuan meringkas siswa dengan teknik menentukan kalimat topik paragraf secara keseluruhan tergolang berada pada taraf cukup dengan nilai rata-rata 56,0465 dan berada pada rentangan nilai 56-65%.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah (1) dalam hal objek, objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 3 Payakumbuh. (2) pembahasan, penelitian ini membahas tentang hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis ringkasan.

C. Kerangka Konseptual

Membaca merupakan kegiatan yang penting, dan semakin penting seiring dengan perkembangan zaman. Pada saat itu perkembangan informasi dalam berbagai aspek kehidupan berkembang dengan cepat. Dan disebarluaskan melalui berbagai media, termasuk media cetak. Untuk memahami semua informasi tersebut mutlak diperlukan kegiatan membaca, disertai dengan kemampuan pemahaman terhadap bacaan. Tanpa adanya kemampuan memahamI isi bacaan, informasi tidak akan dapat diserap dengan tepat dan cepat. Jadi jelas bahwa kemampuan memahami isi bacaan itulah yang menjadi tujuan pokok dari pengajaran membaca dalam pengajaran keterampilan berbahasa (Djiwandono, 1996:63)

Keberhasilan pengajaran keterampilan membaca pemahaman ditentukan oleh banyak indikator. Namun dalam penelitian ini penulis membatasi indikator dari kemampuan membaca pemahaman, yaitu: (1) menemukan ide-ide pokok paragraf, (2) menemukan informasi fokus dan informasi tambahan, (3) menentukan kesimpulan dari bacaan.

Begitupun juga halnya dengan kemampuan menulis ringkasan. Kemampuan ini berhubungan erat dengan kemampuan membaca pemahaman. Semakin tinggi tingkat pemahaman bacaan seseorang, maka kemampuan menulis ringkasannya juga semakin baik.

Indikator yang dapat dijadikan penilaian dalam menilai kemampuan menulis ringkasan siswa yaitu: (1) ketepatan menentukan kalimat topik, (2) ketepatan penggunaan kata hubung antar kalimat dan antar paragraf, (3) ketepatan bahasa yang digunakan dan (3) panjang ringkasan.

Harus diingat pula bahwa meringkas isi bacaan tidak sepenuhnya merupakan bagian dari kemampuan dan keterampilan membaca pemahaman, tetapi merupakan bagian dari keterampilan menulis. Karena kemampuan yang dituntut dalam meringkas isi bacaan menyangkut kemampuan menulis seperti: kalimat, tata bahasa dan ejaan (Djiwandono, 1996:67).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat  disimpulkan alur penelitian ini sebagai berikut.

Hubungan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Kemampuan Menulis Ringkasan Siswa Kelas VIII SMP N 3 Payakumbuh

Bagan 2. Kerangka konseptual

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Dikatakan penelitian kuantitatif karena penelitian ini menggunakan angka-angka statistik sebagai data. Dan metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif merupakan metode yang digunakan dalam penelitian untuk menggambarkan sesuatu objek secara sistematis, faktual dan akurat. Nazir (1985:63) menjelaskan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan dalam meneliti  status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu pemikiran atau suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian yang menggunakan metode deskriptif ini adalah untuk mendeskripsikan atau melukiskan sesuatu secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.

Dalam penelitian ini dideskripsikan hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh.

Metode penelitian ini bersifat expose de facto artinya penelitian dilakukan berdasarkan apa yang telah terjadi. Penelitian ini tidak mengadakan pernyataan kondisi dan tidak mengadakan manipulasi terhadap variabel yang diteliti. Peneliti hanya mengumpulkan data dari kemampuan yang telah dimiliki oleh sample (Nazir, 1985:69).

B. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh yang terdaftar pada tahun pelajaran 2008/ 2009. Jumlah siswa kelas VIII yang terdaftar pada tahun pelajaran tersebut adalah 246 siswa, yang tersebar dalam enam kelas. Mengingat jumlah populasi lebih dari 100 orang siswa, perlu adanya teknik penarikan sampel penelitian. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah proportional random sampling, yaitu penarikan sampel berdasarkan proporsi jumlah siswa per kelas.

Sampel penelitian ini adalah sebanyak 53 orang siswa (20 % dari jumlah populasi siswa per kelas). Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (1999:120) apabila subjeknya kurang dari 100 orang, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10 -15 % atau 20-25 % atau lebih.

Untuk lebih jelas mengenai populasi dan sampel, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Populasi dan Sampel Penelitian

No. Kelas Jumlah siswa Persentase Jumlah sampel
1. VIII.1 41 Orang 20% 9 Orang
2. VIII.2 42 Orang 20% 9 Orang
3. VIII.3 41 Orang 20% 9 Orang
4. VIII.4 41 Orang 20% 9 Orang
5. VIII.5 40 Orang 20% 8 Orang
6. VIII.6 41 Orang 20% 9 Orang
Jumlah 246 Orang 53 Orang

C. Variabel dan Data

Variabel penelitian ini adalah kemampuan membaca pemahaman sebagai variabel bebas dan kemampuan menulis ringkasan sebagai variabel terikat. Variabel tersebut diperoleh dengan cara memberikan tes.

Data yang ingin kumpulkan pada penelitian ini adalah hasil tes membaca pemahaman dan hasil tes menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh.

D. Instrumentasi

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes. Tes digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan membaca pemahaman siswa dan mengukur tingkat kemampuan menulis ringkasan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Payakumbuh. Melalui tes tersebut siswa diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan berdasarkan indikator-indikator yang telah dikembangkan untuk mengetahui tingkat kemampuan membaca pemahaman siswa. Untuk mengukur tingkat kemampuan menulis ringkasan siswa, siswa diminta membuat sebuah ringkasan dari dua buah wacana eksposisi yang mempunyai topik yang sama. Terlebih dahulu tes tersebut diujicobakan dan dikonsultasikan dengan guru Bahasa dan Sastra Indonesia pada kelas yang bersangkutan.

E. Teknik Pengumpulan Data

Data kemampuan membaca pemahaman diambil dengan cara memberikan tes dalam bentuk tes objektif yang telah diujicobakan kepada siswa. Sedangkan data untuk mengukur kemampuan menulis ringkasan diambil dengan cara memberikan kepada siswa dua buah wacana eksposisi yang mempunyai topik yang sama. Setelah wacana dibaca dan dipahami, siswa ditugaskan untuk membuat ringkasan berdasarkan indikator-indikator yang telah dijelaskan sebelumnya kepada siswa.

F. Teknik Analisis Data

Tahap-tahap yang ditempuh dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, melakukan pemeriksaan terhadap hasil tes membaca pemahaman siswa dengan cara memberikan skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah.

Kedua, menskor nilai dengan menggunakan rumus persentase. Menurut Tampubolon (1987:246) rumus yang dapat digunakan adalah sebagai berikut.

Pemahaman Bacaan =

Ketiga, mengelompokkan hasil tes kemampuan membaca pemahaman siswa atas tiga kelompok yaitu tinggi, sedang, dan kurang. Kelompok yang tinggi berada di atas M + ½ SB, kelompok sedang berada antara M – ½ SB sampai M + ½ SB, dan kelompok kurang berada di bawah M – 1/2 SB. Untuk menentukan nilai M dan SB digunakan rumus sebagai berikut.

M = Am + Ci

SB = i                         (Khatib, 1987 71-83)

Keterangan:

M         = angka skor rata-rata (mean)

Am      = (assumed mean) tanda kelas dari interval kelas yang diperkirakan tempat

berada mean

C         = Korelasi yang merupakan hasil bagi jumlah Fd dan N

SB       = simpangan baku

i           = jumlah skor pada suatu kelas interval dan jumlah sampel

Keempat, menganalisis hasil ringkasan siswa sesuai dengan indikator penilaian yang telah ditetapkan yaitu: ketepatan menentukan kalimat topik, ketepatan penggunaan kata hubung antar kalimat dan antar paragraf, panjang ringkasan (1/5 dari karangan asli), dan ketepatan bahasa yang digunakan. Penganalisisan hasil ringkasan siswa dibantu oleh format inventaris data sebagai berikut:

Tabel 2. Format inventaris data hasil ringkasan siswa

No. Kode sampel Aspek yang dinilai Total
Ketepatan menentukan kalimat topik ketepatan penggunaan kata hubung Bahasa yang digunakan Panjang ringkasan
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Keterangan:

1. Ketepatan menentukan kalimat topik

Skor 1 diberikan apabila dari hasil ringkasan siswa tidak ditemukan satu pun kalimat topik dan pokok-pokok pikiran dari tiap paragraf. Skor 2 apabila hanya terdapat satu kalimat topik. Skor 3 apabila hanya terdapat dua kalimat topik. Skor 4 apabila hanya teradapat tiga kalimat topik. Skor 5 apabila terdapat lebih dari tiga kalimat topik (dalam arti kata dalam hasil ringkasan siswa terdapat semua kalimat topik).

2. Ketepatan penggunaan kata penghubung

Skor 1 diberikan apabila hampir seluruh penggunaan kata penghubungnya tidak tepat atau tidak adanya penggunaan kata penghubung. Skor 2 apabila penggunaan kata penghubung kurang tepat dan hanya mempunyai tiga kesalahan dalam penggunaan kata penghubung. Skor  3 apabila hanya terdapat dua kesalahan dalam penggunaan kata penghubung. Skor 4 apabila terdapat satu kesalahan dalam penggunaan kata penghubung. Dan skor 5 diberikan apabila penggunaan kata penghubung digunakan secara tepat.

3. Bahasa yang digunakan

Skor 1 diberikan apabila terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan bahasa (tata bahasa dan ejaan). Skor 2 diberikan apabila banyak terdapat kesalahan dalam penulisan bahasa yang terdiri dari penulisan tanda baca dan ejaan. Skor 3 diberikan apabila terdapat sedikit kesalahan dalam penggunaan bahasa, berupa penulisan tanda baca dan ejaannya. Skor 4 apabila terdapat sedikit sekali kesalahan dalam penggunaan bahasa. Skor 5 apabila tidak terdapat satu pun kesalahan dalam penulisan bahasa berupa penulisan tanda baca dan ejaan.

4. Panjang ringkasan

Skor 1 diberikan apabila panjang ringkasan kurang dari 1/5 panjang ringkasan asli (dalam arti kata panjang ringkasan hanya terdiri dari beberapa kalimat saja). Skor 2 diberikan apabila panjang  ringkasan melebihi 1/5 dari panjang karangan asli. Skor 4 diberikan apabila panjang ringkasan mendekati 1/5 dari panjang ringkasan asli. Skor 5 apabila panjang ringkasan sesuai dengan ketentuan dari panjang ringkasan yang diminta.

Kelima, mengubah skor menjadi nilai dengan menggunakan rumus persentase. Menurut Abdurrahman dan Ratna (2003: 264) rumus yang dapat digunakan adalah sebagai berikut.

N =

Keterangan:

N              = tingkat penguasaan

SM           = skor maksimum

SI             = skor yang harus dicapai

S Maks     = skala yang digunakan

Keenam, menafsirkan kemampuan siswa dalam menulis ringkasan berdasarkan rata-rata hitung (M). Untuk menentukannya menurut Abdurrahman dan Ratna (2003: 270) digunakan rumus berikut.

M =

Keterangan:

M         = mean

FX       = frekuensi dikalikan dengan skor yang diperoleh

N         = jumlah sampel

Ketujuh, mengelompokkan  hasil tes menulis ringkasan siswa dengan menggunakan skala sepuluh, yaitu:

Tabel 3. Perhitungan persentase skala 10

No. Kelas

Interval

Telly Frekuensi

Persentase Tingkat

Penguasaan

Nilai

Ubahan

Kualifikasi
1 91 – 100 96 – 100% 10 Sempurna
2 81 –   90 86 –   95% 9 Baik sekali
3 71 –   80 76 –   85% 8 Baik
4 61 –   70 66 –   75% 7 Lebih dari cukup
5 51 –   60 56 –   65% 6 Cukup
6 41 –   50 46 –   55% 5 Hampir cukup
7 31 –   40 36 –   45% 4 Kurang
8 21 –   30 26 –   35% 3 Kurang sekali
9 11 –   20 16 –   25% 2 Buruk
10 0 –   10 0 –   15% 1 Buruk sekali

Kedelapan, menyimpulkan kemampuan menulis ringkasan siswa berdasarkan pencapaian rata-rata. Kesembilan, pengkorelasian kedua variabel dengan menggunakan rumus korelasi produk moment.

R =

Keterangan:

R         = besar koefisien korelasi

N         = jumlah sampel

X         = skor dari tes kemampuan membaca pemahaman

Y         = skor dari tes kemampuan menulis ringkasan

Kemudian menginterpretasikan hasil yang diperoleh ke dalam tabel r produk moment. Terakhir, membahas hasil analisis dan menyimpulkan hasil pembahasan.

G. Jadwal Penelitian

Tabel 4. Jadwal penelitian

No. Kegiatan Bulan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Seminar

Perbaikan hasil seminar

Penelitian/ pembahasan

Pengolahan data

Penyusunan skripsi

Ujian skripsi

H. Penutup

Demikianlah proposal ini penulis tulis. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan proposal ini.